Dinding Saja Laut Padang

Kalau pemerintah pusat mau, untuk menyelamatkan rakyat dari tsunami, maka laut Padang dan daerah lain di Sumbar bisa didinding. Untuk Padang, anggarannya, tak banyak, kira-kira setara biaya Jembatan Suramadu, Rp4,2 triliun.
Kalau pemerintah pusat punya itikad baik, mencari uang Rp4 triliun tak sulit. Kalau rakyat yang disuruh berpikir, sampai botak kepala tak akan ada jalan keluarnya. Indonesia punya APBN Rp1.600 triliun, berarti nol sekian persen dari APBN itu. Tinggal angguk presiden saja, persoalan tuntas.
“Ide yang bagus, namun perlu kajian mendalam, sifat gempa di daerah ini bagaimana, kondisi pantai bagaimana, kita siap mengerjakan, asal pemerintah pusat mau kasih uang,” kata Kepala Dinas Prasjal dan Tarkim Sumbar, Dody Ruswandi, Kamis (18/11).
Jika memang pemerintah pusat mau, maka untuk Padang kira-kira sepanjang jalan By Pass 27 Km. Tebalnya 25 meter dan tinggi sekitar 15 meter.
Di dunia, banyak sekali kota yang didinding arah ke laut. Di Jepang, bukan hal aneh lagi. Dinding laut atau seawall terpanjang di dunia ada di Korea Selatan. Di sana dinding sepanjang 33,9 kilometer secara total mengelilingi 401 kilometer persegi air laut, sekitar dua per tiga ukuran Seoul.
Di Padang, 11.576 orang lewat facebook (FB) mendesak pemerintah agar mendinding laut. Dalam FB itu ditulis, “Ratusan ribu jiwa penduduk Kota Padang terancam jadi korban tsunami. Pemerintah harus didesak agar lebih memikirkan kepentingan warganya dengan membangun dinding laut di sepanjang pantai Padang.”
Lalu diulas lagi, pemerintah RI membangun jembatan Suramadu dengan biaya Rp4,2 triliun, jembatan Selat Sunda direncanakan Rp250 triliun.
Dinding laut kota Padang paling banter menghabiskan dana Rp1 triliun, dan itu bermanfaat untuk menyelamatkan 150.000 penduduk. Ada 11 orang memberikan jempol atas gagasan itu.
“Jujur bagi saya membuat dinding di sepanjang pantai tidak mudah. Bagi saya lebih baik menanam pohon trembesi di sepanjang pantai agar Padang berpayung pohon rindang,” tulis seseorang memberikan pendapatnya di FB tersebut.
“Payung pendek maksiat di sepanjang tepi pantai Padang itu!” Tulis yang lain.
Seorang geolog bernama Mastepe Adi, menulis pula di dinding FB tersebut. “Kebetulan saya geolog (geotek) sekedar memberi gambaran, gerakan tektonik di Sumatra (Padang) adalah menyudut itu sehingga patahan yang terjadi adalah patahan geser bukan normal (vertikal). Itulah sebabnya terjadi Ngarai Sianok yang panjang sebagai bukti patahan geser (berbeda dengan Jawa yang relatif tegak lurus).”
Ia melanjutkan, untuk seawall tsunami mempunyai disain yang berbeda dengan seawall abrasi, namun seawall ini harus dilindungi dengan armor yang integrated. Yang lebih tahan gerakan gempa.
Masih menurut Mastepe Adi, tsunami merupakan gelombang besar yang ditimbulkan oleh gerakan besar di laut seperti proses tunjaman (tektonik), gempa, aliran turbidit bermassa besar (longsor di kedalaman laut) atau juga ledakan nuklir.

Di Jepang, dinding laut itu ada yang otomatis. Ini diciptakan pakar dam negeri itu Hitachi Zosen. Ia telah menciptakan “The Neo Rise”, yakni model baru bendungan air laut, yang bisa berfungsi secara otomatis bila gelombang tsunami datang.
The Neo Rise didesain khusus untuk meminimalkan kerusakan yang ditimbulkan oleh tsunami. Tidak hanya itu, model bendungan maupun ancaman alam yang ekstrim lainnya seperti angin topan.
The Neo Rise, memakai konsep “no energy, no operation, rising seawall”, dibangun di atas tanah pantai, yang dioperasikan dengan kekuatan hidrolik yang bisa membuka dan menutup secara otomatis. Namun, teknologi ini juga bisa dioperasikan secara manual.
Menurut Hitachi, dam “hidup” ini sangat cocok di pakai untuk pengamanan kawasan pelabuhan dan kawasan pemukiman yang padat penduduk.
Pergerakannya sesuai dengan kondisi air laut. Dam ini akan diam bila air laut normal, dan akan langsung bereaksi kalau terjadi perubahan level air laut pada tingkat yang membahayakan komunitas di sekitarnya.
Walaupun teknologi temuan Hitachi’s Air ini terkesan sederhana, namun yang pasti membutuhkan biaya yang sangat besar untuk pembangunannya.
Teknologi kini sudah mulai dipakai di Jepang, karena negara itu salah satu kawasan yang paling rentan oleh ancaman gempa dan tsunami. Misalnya, selama tahun 2005, 130 ribu kali negara itu dilanda gempa.
Karena itu, Jepang sangat serius mengembangkan teknologi untuk antisipasi keselamatan warganya dari gempa dan tsunami. Begitupun media seperti NHK TV, yang sangat berperan membantu pemerintah Jepang, dengan selalu melaporkan atau memberi peringatan gempa dan tsunami. Demikian juga Badan Metereologi Jepang, yang telah menerapkan earthquake warning system sejak 2007.

sumber: www.hariansinggalang.co.id

About Maz diro

Lahir di satu desa kecil di salah satu sudut provinsi Jambi, 1989 | mempunyai hoby blogging, desain, manipulasi | menyelesaikan D3 teknik pertambangan di UNP Padang pada 2012 | anak pertama dari 4 bersaudara | nggak neko-neko ^_^ Jaringan Sosial dapat ditemui di : Facebook : zugae2 Twitter : agussudiro Google : Plurk : Agus Sudiro Friendster : Agus Sudiro

Posted on 3 Desember 2010, in Artikel sembarang, Kreatifitas. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Ide bagus nih Mas🙂
    Tapi masalahnya ada pada anggaran

Tinggalkan Jejak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: